TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Hipertensi
1. Pengertian
Tekanan darah tinggi (Hipertensi) adalah keadaan yang ditandai dengan terjadinya peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Hipertensi merupakan penyakit yang pada umumnya tidak menunjukkan gejala, atau bila ada, gejalanya tidak jelas, sehingga tekanan yang tinggi di dalam arteri sering tidak dirasakan oleh penderita. Ukuran tekanan darah dinyatakan dengan dua angka, angka yang diatas diperoleh pada saat jantung berkontriksi (sistolik), angka yang dibawah diperoleh ketika jantung ber rileksasi (diastolik) (Junaidi, 2010).
2. Bentuk- bentuk hipertensi
a. Hipertensi sistolik terisolasi
Hipertensi yang terjadi ketika tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg, jadi tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada orang tua (Junaidi, 2010).
b. Hipertensi maligna
Hipertensi yang sangat parah, karena tekanan darah berada di atas 210/120 mmHg sehingga bila tidak diobati akan menimbulkan kematian dalam waktu 3 hingga 6 bulan (Junaidi, 2010).
3. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi pada orang dewasa menurut badan kesehatan dunia WHO adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi
Menurut Junaidi (2010)
No | Kategori | Tekanan sistolik (mmHg) | Tekanan diastolik (mmHg) |
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 | Tensi optimal Tensi normal Tensi normal tinggi Tingkat 1: hipertensi ringan Subgroup : Batas Tingkat 2: hipertensi sedang Tingkat 3: hipertensi berat Hipertensi sistolik isolasi Subgroup : Batas Tingkat 4: hipertensi Maligna | < 120 < 130 130-139 140-159 140-149 160-179 180-209 ≥ 140 140-149 ≥ 210 | < 80 < 85 85-89 90-99 90-94 100-109 110-119 < 90 < 90 ≥ 120 |
4. Faktor Penyebab Hipertensi
Menurut Junaidi (2010), Faktor penyebab hipertensi adalah :
1. Hipertesi Primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain, seperti : penyakit ginjal, kelainan hormonal dan penggunaan obat-obatan.
Faktor resiko terjadinya hipertensi :
a. Faktor genetik
Faktor bawaan memicu terjadnya hiertensi. Jika dalam keluarga seseorang ada yang hipertensi, ada 25% kemungkinan orang tersebut terserang hipertensi. Apabila kedua orang tua mengidap hipertensi, kemungkinan menderita hipertensi naik menjadi 60%.
b. Faktor usia
Tekanan darah meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Darmoejo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa 1,2% -28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita Hipertensi.
c. Jenis kelamin
Pada kaum muda dan paruh baya, hipertensi banyak terjadi pada kaum pria. Namun pada usia di atas 55 tahun, hipertensi banyak menyerang wanita.
d. Stres
Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah selama beberapa waktu. Ketika stres hormon epinefrin atau adrenalin dilepaskan. Adrenalin akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri dan meningkatkan denyut jantung. Jika stres berlanjut, tekanan darah akan tetap tinggi sehingga orang tersebut mengalami hipertensi.
e. Merokok
Merokok juga merupakan salah satu penyebab terjadinya hipertensi. Seorang perokok sebenarnya membuka diri terhadap risiko penyakit jantung, stroke, kanker serta penyakit lainnya.
f. Alkohol dan kafein
Mengkonsumsi alkohol dan kopi dalam jumlah besar dapat mengganggu dan merusak fungsi beberapa organ dan meningkatkan tekanan darah. Hal itu dapat terjadi karena alkohol dan kafein merangsang dilepaskannya epinefrin atau adrenalin, yang membuat arteri menciut.
g. Obesitas
Setiap orang memerlukan sejumlah lemak untuk menyimpan energi, menyekat panas, menyerap guncangan, tetapi harus dalam jumlah wajar dan tidak berlebihan.
5. Patofisiologi menurut Junaidi (2010)
Stres Alkohol Kafein Merokok Obesitas
Memblok
Kerja hormon
adenosin
Merusak
lapisan
dinding
arteri
Meningkatkan
Pelepasan epinefrin
/adrenalin Terbentuk
Plak/kerak
di arteri
Penimbunan lemak yang berlebihan
Penyempitan
Dinding arteri
Kontraksi arteri
lebih kuat
Pandangan menjadi Tekanan darah meningkat sakit kepala
kabur
Gelisah
Denyut jantung
meningkat
Mual dan muntah Sesak napas Cepat lelah
6. Manifestasi Klinis
Sebagian besar penderita hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal (Junaidi, 2010).
Penderita hipertensi berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut: sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera (Junaidi, 2010).
7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan labor rutin yang di lakukan sebelum memulai terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi, biasanyadi periksa urinalisa darah perifer lengkap, kimia darah (Kalium, Natrium, Kreatinin, Gula darah puasa, Kolestrol total, HDL dan EKG) Sebagai tambahan dapat di lakukan pemeriksaan lain seperti telren, Kreatinin protein, Urine 24 jam, Asam urat, Kolesterol, LDL, TSH endokardiografi (Junaidi, 2010).
8. Penatalaksanaan
Menurut Junaidi (2010), penatalaksanaan hipertensi sebagai berikut :
a. Pengobatan non farmakologis
1. Mengurangi asupan garam
2. Berhenti merokok
3. Membatasi konsumsi alkohol
4. Membatasi konsumsi kafein
5. Mengurangi berat badan baagi penderita hipertensi yang obesitas
6. Olah raga teratur
7. Mengelola stres
8. Istirahat cukup
b. Pengobatan farmakologis
1. Diuretik
2. Penghambatan Adrenergik
3. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE inhibitor)
4. Angiotensin II Receptor Blocker (ARB)
5. Antagonis kalsium
6. Vasodilator yang langsung bekerja pada saraf pusat
7. Vasodilator lain
8. Terapi kombinasi, seperti : kombinasi diuretik dengan ACE Inhibitor, kombinasi diuretik dengan beta blocker, kombinasi diuretik dengan ARB, kombinasi Duo diuretik dan kombinasi antagonis kalsium dengan ACE inhibitor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar