Kamis, 21 Juli 2011

Askep PPOK


Asuhan keperawatan PPOK

KONSEP DASAR PENYAKIT

  1. PENGERTIAN
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis, emfisema paru-paru dan asthma bronchiale (S Meltzer, 2001 : 595)‏


  1. ETILOGI
    1. Rokok
Ø  Hiperplasia kelenjar mucus bronkus
Ø  Metaplasia skuamus epitel saluran pernapasan
Ø  Inhibisi aktivitas sel rambut getar, makrofag alveolar, surfaktan
    1. Infeksi, bakteri terbanyak adalah haemophilus influenza dan streptococus pneumonia
    2. Polusi, zat-zat kimia antara lain : N2O, hidrokarbon, aldehid
    3. umur
    4. keadaaan sosial ekonomi.


  1. KLASIFIKASI
1. Bronkitis kronik
Bronkitis merupakan definisi klinis batuk-batuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak, sekurang-kuranganya 3 bulan dalam satu tahun dan terjadi paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut.
           

2. Emfisema paru
   Emfisema paru merupakan suatu definisi anatomik, yaitu suatu perubahan anatomik paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus
1)      Emfisema Centriolobular Merupakan tipe yang sering muncul, menghasilkan kerusakan bronchiolus, biasanya pada region paru atas. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar tetap bersisa
2)      Emfisema Panlobular (Panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema, timbul sangat sering pada seorang perokok.
3)      Emfisema Paraseptal Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi enzim alpha-antitripsin. Pada keadaan lanjut, terjadi peningkatan dyspnea dan infeksi pulmoner, seringkali timbul Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul.

3. Astma
            Asma merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-cabang trakeobronkial terhadap pelbagai jenis rangsangan. Keadaan ini bermanifestasi sebagai penyempitan saluran-saluran napas secara periodic dan reversible akibat bronkospasme.









  1. PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor resiko seperti merokok, polusi, umur, akan mendatangkan proses inflamasi bronkus dan juga menimbulkan kerusakan pada dinding bronkus terminal. Akibat dari kerusakan akan terjadi obstruksi bronkus kecil (bronkiolus terminalis), yang mengalami penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk ke alveoli pada saat inspirasi, pada saat ekspirasi banyak terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara (air trapping). Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan sesak napas dengan segala akibatnya. Adanya obstruksi pada awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi. Fungsi-fungsi paru: ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun perfusi darah akan mengalami gangguan (Brannon, et al, 1993).

  1. MANIFESTASI KLINIS
1.      Bronkitis kronik
-          Batuk-batuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak, sekurang-kuranganya 3 bulan dalam satu tahun dan terjadi paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut.
-          Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukosa
-          Mukus lebih kental
-          Kerusakan fungsi ciliary
2.      Untuk emfisema, astma
Ø   Kelemahan badan
Ø   Batuk
Ø   Sesak napas
Ø   Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi
Ø   Mengi atau wheeze
Ø   Ekspirasi yang memanjang
Ø   Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut.
Ø   Penggunaan otot bantu pernapasan
Ø   Suara napas melemah
Ø   Kadang ditemukan pernapasan paradoksal
Ø   Edema kaki, asites dan jari tabuh.

F.      PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah:
1.      Memeperbaiki kemampuan penderita mengatasiu gejala tidak hanya pada fase akut, tetapi juga fase kronik.
2.      Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.
3.      Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih awal.

Penatalaksanaan medik
1.      Pencegahan : Mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara
2.      Terapi eksaserbasi akut di lakukan dengan :
1.      Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi
Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia, maka digunakan ampisilin 4 x 0.25-0.56/hari atau eritromisin 4x0.56/hari Augmentin (amoksilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Cacarhalis yang memproduksi B. Laktamase Pemberiam antibiotik seperti kotrimaksasol, amoksisilin, atau doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-tanda pneumonia, maka dianjurkan antibiotik yang kuat.
2.      Terapi oksigen diberikan jika terdapata kegagalan pernapasan karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2
3.      Fisioterapi membantu pasien untuk mengelurakan sputum dengan baik.
4.      Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya golongan adrenergik b dan anti kolinergik. Pada pasien dapat diberikan salbutamol 5 mg dan atau ipratopium bromida 250 mg diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25 - 0,56 IV secara perlahan.
3.      Terapi jangka panjang di lakukan :
1.      Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4x0,25-0,5/hari dapat menurunkan kejadian eksaserbasi akut.
b. Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal paru.
c. Fisioterapi
2.      Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
3.      Mukolitik dan ekspektoran
4.      Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2 (7,3 Pa (55 MMHg)
5.      Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi.
Rehabilitasi untuk pasien PPOK adalah :
o    Ø Fisioterapi
o    Ø Rehabilitasi psikis
o    Ø Rehabilitasi pekerjaan (Mansjoer 2001 : 481-482)]
G.    KOMPLIKASI
1.      Hipoxemia
Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg, dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood, penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul cyanosis.
2.      Asidosis Respiratory
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.
3.      Infeksi Respiratory
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus, peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
4.      Gagal jantung
Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini.
5.      Cardiac Disritmia
Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis respiratory.

6.      Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
Ø  IDENTITAS
Nama pasien, umur jenis kelamin, status perkawinan, jumlah anak, agama, warga negara, pendidikan, pekerjaan, alamat.
Ø  RIWAYAT KESEHATAN
v  Keluhan utama
v  Riwayat penyakit dahulu
v  Riwayat penyakit keluarga
Data riwayat kesehatan dari proses penyakit ;
1.      Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan?
2.      Apakah aktivitas meningkatkan dispnea?
3.      Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas?
4.      Kapan pasien mengeluh paling letih dan sesak napas?
5.      Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruh?
6.      Riwayat merokok?
7.      Obat yang dipakai setiap hari?
8.      Obat yang dipakai pada serangan akut?
9.      Apa yang diketahui pasien tentang kondisi dan penyakitnya?
Data tambahan yang dikumpulkan melalui observasi dan pemeriksaan sebagai berikut:
1.      Frekuensi nadi dan pernapasan pasien?
2.      Apakah pernapasan sama tanpa upaya?
3.      Apakah ada kontraksi otot-otot abdomen selama inspirasi?
4.      Apakah ada penggunaan otot-otot aksesori pernapasan selama pernapasan?
5.      Barrel chest?
6.      Apakah tampak sianosis?
7.      Apakah ada batuk?
8.      Apakah ada edema perifer?
9.      Apakah vena leher tampak membesar?
10.  Apa warna, jumlah dan konsistensi sputum pasien?
11.  Bagaimana status sensorium pasien?
12.  Apakah terdapat peningkatan stupor? Kegelisahan
13.  Hasil pemeriksaan diagnosis seperti :
1.      Chest X-Ray :
dapat menunjukkan hiperinflation paru, flattened diafragma, peningkatan ruang udara retrosternal, penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema), peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis), normal ditemukan saat periode remisi (asthma)
2.      Pemeriksaan Fungsi Paru :
dilakukan untuk menentukan penyebab dari dyspnea, menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi, memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek dari terapi, misal : bronchodilator.
3.      TLC :
meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma, menurun pada emfisema.
4.      Kapasitas Inspirasi :
menurun pada emfisema
5.      FEV1/FVC :
ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma.
6.      ABGs :
menunjukkan proses penyakit kronis, seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma, pH normal atau asidosis, alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma).
7.      Bronchogram :
dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi, kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema), pembesaran kelenjar mukus (bronchitis)
8.      Darah Komplit :
peningkatan hemoglobin (emfisema berat), peningkatan eosinofil (asthma).
9.      Kimia Darah :
alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer.
10.  Sputum Kultur :
untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen,
pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan atau allergi.
11.  ECG :
deviasi aksis kanan, gelombang P tinggi (asthma berat), atrial disritmia (bronchitis), gel. P pada Leads II, III, AVF panjang, tinggi (bronchitis, emfisema), axis QRS vertikal (emfisema)
12.  Exercise ECG, Stress Test :
menolong mengkaji tingkat disfungsi pernafasan, mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator, merencanakan/evaluasi program.
Palpasi:
1.      Palpasi pengurangan pengembangan dada?
2.      Adakah fremitus taktil menurun?
Perkusi:
1.      Adakah hiperesonansi pada perkusi?
2.      Diafragma bergerak hanya sedikit?
Auskultasi:
1.      Adakah suara wheezing yang nyaring?
2.      Adakah suara ronkhi?
3.      Vokal fremitus nomal atau menurun?

A.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal.
Tujuan: Pencapaian bersihan jalan napas klien
Intervensi keperawatan:
1.      Beri pasien 6 sampai 8 gelas cairan/hari kecuali terdapat kor pulmonal.
2.      Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernapasan diafragmatik dan batuk.
3.      Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser, inhaler dosis terukur, atau IPPB
4.      Lakukan drainage postural dengan perkusi dan vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai yang diharuskan.
5.      Instruksikan pasien untuk menghindari iritan seperti asap rokok, aerosol, suhu yang ekstrim, dan asap.
6.      Ajarkan tentang tanda-tanda dini infeksi yang harus dilaporkan pada dokter dengan segera: peningkatan sputum, perubahan warna sputum, kekentalan sputum, peningkatan napas pendek, rasa sesak didada, keletihan.
7.      Beriakn antibiotik sesuai yang diharuskan.
8.      Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan imunisasi terhadap influenzae dan streptococcus pneumoniae.
2.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi perfusi
Tujuan:Perbaikan dalam pertukaran gas
Intervensi keperawatan:
1.      Deteksi bronkospasme saat auskultasi .
2.      Pantau klien terhadap dispnea dan hipoksia.
3.      Beriakn obat-obatan bronkodialtor dan kortikosteroid dengan tepat dan waspada kemungkinan efek sampingnya.
4.      Berikan terapi aerosol sebelum waktu makan, untuk membantu mengencerkan sekresi sehingga ventilasi paru mengalami perbaikan.
5.      Pantau pemberian oksigen.
6.      Berikan penkes tentang terapi yang diberikan.
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.
Tujuan: Memperlihatkan kemajuan pada tingkat yang lebih tinggi dari aktivitas yang mungkin.
Intervensi keperawatan:
1.      Kaji respon individu terhadap aktivitas; nadi, tekanan darah, pernapasan.
2.      Ukur tanda-tanda vital segera setelah aktivitas, istirahatkan klien selama 3 menit kemudian ukur lagi tanda-tanda vital.
3.      Kaji tingkat fungsi pasien yang terakhir dan kembangkan rencana latihan berdasarkan pada status fungsi dasar.
4.      Sarankan konsultasi dengan ahli terapi fisik untuk menentukan program latihan spesifik terhadap kemampuan pasien.
5.      Sediakan oksigen sebagaiman diperlukan sebelum dan selama menjalankan aktivitas untuk berjaga-jaga.
6.      Tingkatkan aktivitas secara bertahap; klien yang sedang atau tirah baring lama mulai melakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.
7.      Tingkatkan toleransi terhadap aktivitas dengan mendorong klien melakukan aktivitas lebih lambat, atau waktu yang lebih singkat, dengan istirahat yang lebih banyak atau dengan banyak bantuan.

4.      Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea, kelamahan, efek samping obat, produksi sputum dan anoreksia, mual muntah.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Intervensi keperawatan:
1.      Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
2.      Auskultasi bunyi usus
3.      Berikan perawatan oral sering, buang sekret.
4.      Dorong periode istirahat I jam sebelum dan sesudah makan.
5.      Pesankan diet lunak, porsi kecil sering, tidak perlu dikunyah lama.
6.      Hindari makanan yang diperkirakan dapat menghasilkan gas.
7.      Timbang berat badan tiap hari sesuai indikasi.
5.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan, pengaturan posisi.
Tujuan:  Kebutuhan tidur terpenuhi
Intervensi keperawatan:
1.      Bantu klien latihan relaksasi ditempat tidur.
2.      Lakukan pengusapan punggung saat hendak tidur dan anjurkan keluarga untuk melakukan tindakan tersebut.
3.      Atur posisi yang nyaman menjelang tidur, biasanya posisi high fowler.
4.      Lakukan penjadwalan waktu tidur yang sesuai dengan kebiasaan pasien.
5.      Berikan makanan ringan menjelang tidur jika klien bersedia.

6.      Kurang perawatan diri berhubungan dengan keletihan sekunder akibat peningkatan upaya pernapasan dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.
Tujuan: Kemandirian dalam aktivitas perawatan diri
Intervensi:
1.      Pantau kebersihan pasien
2.      Dorong klien untuk mandi, berpakaian, dan berjalan dalam jarak dekat, istirahat sesuai kebutuhan untuk menghindari keletihan dan dispnea berlebihan.
3.      Bantu pasien dalam perawatan diri
4.      Berikan penkes tentang betapa pentingnya perawatan diri.

7.      Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap kematian, keperluan yang tidak terpenuhi.
Tujuan: Klien tidak terjadi kecemasan
Intervensi keperawatan:
1.      Bantu klien untuk menceritakan kecemasan dan ketakutannya pada perawat.
2.      Jangan tinggalkan pasien sendirian selama mengalami sesak.
3.      Jelaskan kepada keluarga pentingnya mendampingi klien saat mengalami sesak.
4.      Berikan siraman rohani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar